Cool Blue Outer Glow Pointer

Kamis, 17 April 2014

Tutorial Hijab Modern (Cara Memakai Jilbab Paris) Trend 2014

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, tiada kata yang paling indah selain kata ucapan salam di awal kalimat ini. Pada kesempatan kali ini Digital Posting akan berbagi sedikit ilmu tentang Hijab Modern di tahun 2014 ini. Banyak sekali trend jilbab di tahun ini, semakin pesat berkembangnya zaman semakin pesat juga munculnya para hijabers-hijabers yang tidak kalah menariknya dengan model/trend masa sekarang.

Jilbab/Kerudung Paris ini sangat populer sekali di kalangan muda para wanita, pasalnya kaum muda wanita terutama mahasiswi sering memakai jilbab ke kampus yang sering dinamainya Jilbab Paris.
Jilbab adalah salah satu pakaian wanita yang fungsinya yaitu untuk menutup aurat. Kebanyakan para wanita, memakai jilbab/kerudung itu sering tidak dilakukan, karena mungkin mereka ingin menampilkan keindahan rambut mereka sebagai mahkota. Tetapi, akhir-akhir ini dengan adanya hijab tutorial cara memakai jilbab yang modern, sangat menarik minat para kaum hawa.
Ternyata berjilbab yang modern itu bisa menambah kecantikan dan keanggunan mereka. Dengan adanya hijab ini, wanita yang tadinya tidak mau menggunakan jilbab pun, kini sangat rajin memakai jilbab. dan ternyata zaman lah yang sangat sensitif terhadap perubahan.

Mengenbai hal diatas, Digital Posting juga akan sedikit berbagi Tutorial Hijab Modern (Cara Memakai Jilbab Paris) Trend 2014. mau tau gimana?? silahkan lihat saja beberapa gambar tutorial hijab dibawah ini.
Semoga Tutorial Hijab Modern (Cara Memakai Jilbab Paris) Trend 2014 ini bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi kaum hawa. Terimakasih.

Pohon dan Hutan di Indonesia

Hutan dan pohon berperan besar dalam memberikan perlindungan kepada manusia. Hutan dan pohon menyediakan udara bersih dan air, menjaga keanekaragaman hayati dan mencegah perubahan iklim. Bagi banyak orang, hutan dan pohon juga menawarkan makanan, tempat tinggal dan pekerjaan. Hutan juga menjadi habitat dan tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan hewan (termasuk tumbuhan dan hewan langka).
Luas hutan di Indonesia mencapai 133 juta hektar yang menasbihkan Indonesia sebagai negara dengan hutan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire. Namun sayangnya, menurut buku Rekor Dunia Guinness, Indonesia menjadi negara dengan laju kerusakan hutan tercepat di dunia. Akibat kerusakan hutan tersebut, dari 133 juta ha luas hutan Indonesia, hanya 23 % saja yang masih berupa hutan primer dan terbebas dari kerusakan. Kerusakan itu sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan industri (terutama kayu) dan pengalihan fungsi hutan menjadi perkebunan melalui perambahan liar maupun pembakaran hutan (kebakaran hutan yang disengaja)
Deforestasi menyebabkan hilangnya ekosistem di dalamnya, termasuk spesies tumbuhan dan hewan langka. Padahal 80% keanekaragaman hayati terdapat di dalam hutan. Deforestasi juga menyebabkan berkurangnya kemampuan menyerap emisi karbon dunia yang tentunya berimbas pada meningkatnya ancaman pemanasan global.
Hutan pun menyediakan cadangan makanan terbesar bagi manusia. Dengan rusaknya hutan, maka persediaan makanan makhluk hidup di dunia pun semakin berkurang. Kerusakan hutan sebagai bagian dari salah satu kerusakan lingkungan, sebagaimana diungkap World Risk Report 2012, mempunyai korelasi terhadap risiko bencana. Semakin besar kerusakan lingkungan yang terjadi risiko bencana pun semakin besar.
Mumpung Indonesia masih mempunyai hutan sehingga masih bisa ikut memperingati Hari Hutan Internasional, Mari tunjukkan kepada dunia bahwa pohon dan hutan harus tetap ada di Indonesia. Menanam pohon, menanam masa depan!

Rabu, 16 April 2014

ANGKLUNG

Sejarah Angklung


Angklung pertama kali dibawa oleh orang dari baduy luar. Saat itu alat musik angklung digunakan untuk mengamen, pada awalnya angklung memunyai nada dasar daminatilada (bukan nada dasar internasional), kemudian dilanjutkan oleh Kang Daeng untuk membentuk tangga nada internasional (do e mi fa sol la si do). Pada saat masih memunyai nada dasar tradisional, Angklung digunakan sebagai penyambutan masyarakat tradisional untuk menyambut musim panen. Angklung yang berbahan dasar dari alam menjadi tanda ucapan syukur orang Baduy saat musim panen tiba.



Kang Daeng pada awalnya berusaha memasukkan Angklung ke dalam seni musik di Sekolah, namun ditolak. Pada masa itu, yang bisa bersekolah adalah anak orang kaya dan anak keturunan ningrat. Angklung yang terkenal sebagai alat musik jalanan dianggap tidak pantas dimainkan oleh anak-anak orang kaya tersebut.. Hingga butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya pada tahun 1970 angklung dapat diterima dan masuk dalam sk mentri. Namun masih ditemui beberapa kendala yakni tidak adanya guru angklung, yang ada hanya pelatih-pelatih saja.


Keunikan Angklung

angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa sunda di pulau jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Angklung terdaftar sebagai karya agung warisan budaya lisan dan nonbendawi manusia dari unesco sejak november 2010.

ASAL-USUL

tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur neolitikum yang berkembang di nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-hinduisme dalam kebudayaan nusantara.

Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa kerajaan sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap nyai sri pohaci sebagai lambang dewi padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di jasinga, bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat dewi sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah hindia belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.[rujukan?]
selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap dewi sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan rengkong dan dongdang serta jampana (usungan pangan) dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero jawa, lalu ke kalimantan dan sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari indonesia ke thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, udjo ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.



Jenis Jenis Angklung

1. Angklung Kanekes

angklung di daerah kanekes (kita sering menyebut mereka orang baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di kajeroan (tangtu; baduy jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di kaluaran (baduy luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

2. Angklung dogdog lojor

kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat kasepuhan pancer pangawinan atau kesatuan adat banten kidul yang tersebar di sekitar gunung halimun (berbatasan dengan jakarta, bogor, dan lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara serah taun atau seren taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib
3. Angklung Gubrag

Pengertian dan sejarah Batik Indonesia



Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik".Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
          Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki


CORAK BATIK
           Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

BUDAYA BATIK
          Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta..Pada awalnya baju batik kerap dikenakan pada acara acara resmi untuk menggantikan jas. Tetapi dalam perkembangannya apda masa Orde Baru baju batik juga dipakai sebagai pakaian resmi siswa sekolah dan pegawai negeri (batik Korpri) yang menggunakan seragam batik pada hari Jumat. Perkembangan selanjutnya batik mulai bergeser menjadi pakaian sehari-hari terutama digunakan oleh kaum wanita. Pegawai swasta biasanya memakai batik pada hari kamis atau jumat.

PERKEMBANGAN BATIK DI INDONESIA
          Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
         Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
        Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
        Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.


CARA PEMBUATAN
          Semula batik dibuat di atas bahan dengan warna putih yang terbuat dari kapas yang dinamakan kain mori. Dewasa ini batik juga dibuat di atas bahan lain seperti sutera, poliester, rayon dan bahan sintetis lainnya. Motif batik dibentuk dengan cairan lilin dengan menggunakan alat yang dinamakan canting untuk motif halus, atau kuas untuk motif berukuran besar, sehingga cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kain yang telah dilukis dengan lilin kemudian dicelup dengan warna yang diinginkan, biasanya dimulai dari warna-warna muda. Pencelupan kemudian dilakukan untuk motif lain dengan warna lebih tua atau gelap. Setelah beberapa kali proses pewarnaan, kain yang telah dibatik dicelupkan ke dalam bahan kimia untuk melarutkan lilin.

PENGAKUAN DUNIA TERHADAP BATIK
          Unesco , Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membawahi masalah kebudayaan telah menyetujui batik sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan oleh Indonesia. peresmian batik sebagai warisan budaya tak benda dari UNESCO itu akan diselenggarakan pada suatu rangkaian acara pada 28 September 2009 hingga 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab Warisan budaya tak benda kemanusiaan merupakan satu dari tiga daftar yang dibuat di bawah Konvensi UNESCO 2003 mengenai Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda untuk Kemanusiaan. Sejak 2008, pemerintah telah melakukan penelitian lapangan dan melibatkan komunitas serta ahli batik di 19 provinsi di Indonesia untuk menominasikan batik sebagai warisan budaya tak benda kemanusiaan dari UNESCO.
          Setelah wayang dan keris diakui UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia, maka batik pun kini mendapatkan pengakuan itu.Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO) sudah mengakui wayang pada tahun 2003 dan mengakui keris pada 2005.
"Pengakuan UNESCO terhadap batik itu merupakan proses panjang yang melalui pengujian dan sidang tertutup. Sebelumnya, pada 11-14 Mei 2009 telah dilakukan sidang tertutup dalam penentuan di hadapan enam negara di Paris.Untuk tanggal 2 Oktober di Abu Dhabi merupakan sidang terbuka sebagai acara pengukuhan.
          Dalam keterangan pers Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menyebutkan hari kedua sidang UNESCO "Intergovernmental Committee for Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage" di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, antara lain membahas evaluasi nominasi inskripsi pada Daftar Representatif mengenai Budaya bukan benda Warisan Manusia.
          "Dalam `Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity` itu, Batik Indonesia disebutkan dalam Rancangan Keputusan 13.44 yang diharapkan dapat disahkan pada sidang akhir pada 2 Oktober 2009 malam," kata Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar, Tjetjep Suparman, yang memimpin delegasi Indonesia pada sidang ke-4 komite itu.

HARI BATIK
          Pengecekan di UNESCO tentang alasan menjadikan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, ternyata pengakuan UNESCO itu sudah melalui riset bertahun-tahun. Batik di Indonesia ada motif dan filosofi, bukan sekadar produksi.
          Untuk merayakan keberhasilan itu, lanjut dia, Presiden Yudhoyono mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenakan pakaian batik demi penghargaan terhadap kebudayaan Indonesia tersebut.Warisan budaya tak benda kemanusiaan merupakan satu dari tiga daftar yang dibuat di bawah Konvensi UNESCO 2003 mengenai Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda untuk Kemanusiaan.
          Sejak 2008, pemerintah telah melakukan penelitian lapangan dan melibatkan komunitas serta ahli batik di 19 provinsi di Indonesia untuk menominasikan batik sebagai warisan budaya tak benda kemanusiaan dari UNESCO.
          Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, sejak 2003 kebudayaan Indonesia telah diakui oleh UNESCO dengan diraihnya sertifikat wayang sebagai warisan budaya tak benda dan keris sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia.Pemerintah sedang menominasikan angklung sebagai warisan budaya dari Indonesia.
          Hari Jumat (02/10) ini merupakan hari yang special karena President Susilo Bambang Yudhoyono telah meminta seluruh masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik dalam rangka untuk mendukung keputusan UNESCO yang telah memasukan batik dalam list item "Intangible Cultural Heritage of Humanity".
          “Batik merupakan icon budaya yang sangat berharga karena keunikannya. Batik memiliki simbol dan filosofi unik, termasuk alur kehidupan laki-laki, dan batik telah dianggap Indonesia sebagai element non-material dari warisan budaya negara. Kami menyatakan bahwa batik telah diakui sebagai element warisan budaya global yang diproduksi Indonesia. Presiden SBY juga mendorong seluruh warga negara Indonesia untuk mengenakan batik di tanggal 2 Oktober ini, untuk merayakan Hari Batik.“ ungkap Menkokesra, Aburizal Bakrie.
          UNESCO (United Nations Education, Scientific and Cultural Organization) telah mendeskripsikan Batik Indonesia dilihat dari sisi teknis, sebagai symbol dan budaya yang terbuat dari bahan kapas dengan celupan hiasan dari canting atau dari bahan sutra. Namun, tidak seperti negara lain, Indonesia sangat bangga atas Batik yang dapat dipakai sebagai pakaian formal untuk acara resmi. Batik sendiri biasanya dibuat dari kain katun atau sutra, yang sangat nyaman untuk dipakai.
          Sebelumnya, UNESCO juga telah meresmikan Keris dan Wayang, juga Angklung dan Gamelan menjadi warisan budaya Indonesia. Untuk mendukung Hari Batik, maka pemerintah kota Jakarta memberikan diskon khusus ketika memasuki pusat rekreasi di Jakarta. Pabrik Batik pola tradisional juga ditemukan di beberapa negara seperti Malaysia, Japan, China, India, Sri Lanka, Egypt, Nigeria, Senegal dan Singapura.Jadi menurut saya sebagai penulis,batik akan selalu jadi warisan budaya nusantara ini bahkan akan menjadikannya ikon dunia di masa depan kelak.



       

Pengertian dan Sejarah Wayang



WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara,
seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Berikut adalah pengertian dan sejarah wayang

Brikit adalah pengertian dan sejarah wayang

Pengertian Wayang

Kata wayang (bahasa Jawa), bervariasi dengan kata bayang, yang berarti bayangan; seperti halnya kata watu dan batu, yang berarti batu dan kata wuri dan buri, yang berarti belakang. Bunyi b dilambangkan dangan huruf b dan w pada kata yang pertama dengan yang kedua tidak mengakibatkan perubahan makna pada kedua kata tersebut. G.A.J. Hazeu mengatakan bahwa wayang dalam bahasa/kata Jawa berarti: bayangan , dalam bahasa melayu artinya: bayang-bayang, yang artinya bayangan, samar-samar, menerawang.

Pengertian bayang-bayang/bayangan yang lain untuk menerangkan kata dan makna wayang itu dalam bahasa Jawa yang disebut sebagai ayang-ayang. Misalnya seseorang yang sedang berdiri atau duduk di suatu tempat, kemudian ia diterpa cahaya matahari yang mengenai badan orang itu, maka orang itu menghasilkan bayangan. Bayangan inilah yang kemudian oleh orang Jawa sering dinamakan ayang-ayang. Tentu saja panjang-pendeknya ayang-ayang tersebut sangat bergantung pada sudut posisi matahari.

Pengertian wayang di atas lebih beroriantasi pada seni pertunjukan yang memperhatikan/menekankan pada efek yang dihasilkan pada suatu boneka atau sejenisnya setelah benda tersebut dikenal/disorot dengan cahaya yang datangnya dari sebuah lampu (blencong), yang kemudian menghasilkan suatu bayangan. Dari bayangan yang dihasilkan itu kemudian ditangkap oleh sekat, layar(kelir), yang akhirnya menghasilkan bayangan lagi di bagian belakang layer (dibalik kelir). Bila demikian maka terdapat dua bagian bayangan; yang pertama, bayangan di depan layer terjadi apabila boneka tersebut digerakkan menjauhi layer dan mendekati blencong, maka bayangan akan membesar baik didepan atau di belakang layer.
SEJARAH WAYANG

1.Wayang dalam karya sastra


Wayang dalam bentuk karya tertulis banyak jumlahnya. Apabila ditelusuri secara diakronis, maka cerita dengan lakon wayang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan karya sastra wayang itu sendiri. Tokoh wayang yang sekarang dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama Jawa, tidak terpisahkan dari epos tanah Hindu(India), terutama Ramayana dan Mahabharata dan perbedaannya dengan yang terdapat di Indonesia, namun ditinjau dari persamaan nama tokoh, maka hal itu tidak dapat dipisahkan (kerangka pemikiran histories), meskipun mengalami sedikit perubahan (transformasi budaya).

Lakon-lakon yang dipentaskan di dalam pertunjukkan wayang tidak secara langsung mengambil dari cerita-cerita yang bersumber dari India (berbahasa Sansekerta) maupun Jawa Kuno, tetapi menyajikan lakon-lakon wayang yang sudah diciptakan dan digubah oleh para pujangga (sastrawan) Jawa pada ‘jaman Jawa baru’, seperti kitab Pustaka Raja Purwa (gagrag Surakarta) dan Serat Kandaning Ringgit Purwa (gagrag Yogyakarta). Paling tidak dari dua sumber tersebut lakon-lakon wayang kemudian diciptakan tersebut dapat dibentuk dalam dua lakon besar, yaitu lakon pokok/baku/lajer/pakem dan lakon carangan.

Wayang yang termuat di dalam suatu karya sastra dapat pula sebagai sumber informasi mengenai pertunjukkan wayang (permainan bayang-bayang), bukan mengenai cerita atau lakon wayang itu sendiri. Sebagai contoh: di dalam Arjunawiwaha Kakawin karya Empu Kanwa, pada jaman Airlangga di Jawa Timur (950 Saka=IX sesudah Masehi), masa kediri, disebutkan mengenai seseorang menonton wayang menangis sedih, bodoh sekali ia, padahal sudah tahu yang disaksikan itu adalah kulit yang ditatah, kata orang ia terkena gaya gaib.
2 Wayang dalam prasasti dan relief candi

Pada masa purba Indonesia, informasi mengenai suatu berita dapat ditulis pada prasasti. Prasasti dapat berupa tonggak batu maupun lempengan tembaga. Sebagai contoh: prasasti Mulawarman dari Kutei, bertulisan Pallawa sekitar tahun 400M, berbentuk yupa (sebuah tugu peringatan upacara kurban), berbahasa Sansekerta dan tersusun dalam bentuk syair. (Soekmono, 1991:53). Prasasti dapat dipandang sebagai benda yang bernilai sejarah. Dari prasasti itu dapat ditelusuri keterangan-keterangan mengenai suatu berita atau cerita pada masa lampau. Dari prasasti itu pula dapat dideteksi mengenai latar belakang/orientasi pemikiran masyarakat pada waktu itu. Sebagai contoh adanya pemikiran religius Jawa Kuna, yang salah satunya dalah menyembah dan menganggungkan dewa-dewa, seperti kepada dewa Wisnu, Brahma, dan Siwa.

Beberapa prasasti telah membuktikan bahwa pertunjukkan wayang telah ada pada jaman kuna. Misalnya empat lempengan tembaga yang di temukan di Bali. Lempengan ini berangka tahun 980 Saka (1058 M) dan isinya telah disalain oleh Van Der Tuuk dan Dr. Brandes. Lempengan ini menyebutkan kata ringgit. Kata ringgit hingga saat ini masih dipergunakan sebagai sinonim dari kata wayang.

Keterangan mengenai wayang juga ditemukan pada relief candi; berupa gambar atau visualisasi tokoh-tokoh wayang yang dipahat pada dinding-dingdingnya. Apabila kita beranggapan bahwa wayang berasala dari gambar-gamabr relief candi, maka dugaan yang dikemukakan adanya usaha orang jaman dulu untuk mengutip gambar pada relief tersebut agar dapat digulung, dan dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dipentaskan atau dipergelarkan. Dugaan tersebut terbukti dengan banyaknya candi yang memuat cerita wayang, misalnya: relief di Candi Prambanan, candi Jago, candi Panatara.

Pada candi-candi tersebut didapatkan stilisasi tokoh-tokoh dalam relief yang tidak serupa dengan wayang kulit Purwa (Jawa) tetapi mirip dengan adanya wayang dari kertas yang dapat digulung dan digelar, terkenal dengan nama wayang beber yang masih tumbuh dan berkembang didaerah Wonosari, Yogyakarta dan Pacitan di Jawa Timur. Sesuai dengan evolusi bentuk stilisasi yang mengilhaminya, maka seyogyanya yang diambil sebagai pola ialah perkembangan terakhir. Disamping itu pada candi Panataran terdapat dua gaya relief, yaitu gaya yang dekat dengan berntuk-bentuk alam, seperti yang terdapat pada cerita Kresnayana dan gaya dekoratif mirip wayang yang terdapat pada panil-panil relief Ramayana. Dengan demikian nampak bahwa tidak benar suatu anggapan yang memandang gaya realistic pada relief candi Panataran kemudian berangsur-angsur berubah menjadi dekoratif seperti yang terdapat pada candi-candi di Jawa Timur yang lebih tua usianya. Kemudian pada candi Jago, terdapat tradisi untuk membatasi adegan-adegan dala mrelief dengan menggunakan gunungan-gunungan atau kayon seperti yang terdapat pada pertunjukan wayang kulit.

Ini rupa-rupanya terpengaruh pekeliran wayang kulit yang selalu mengawali dan mengakhiri adegan-adegannya dengan cara menancapkan gunungan di tengah layer. Tanpa pengaruh ini kiranya mustahil orang sampiai pada pemilihan gunungan atau kayon sebagai pembatas adegan dalam relief candi. Misalnya di candi Surawana, pembatas adegannya ialah motif ikal bersambung yang dibuat menegak memenuhi seluruh tinggi relief. Dengan demikian maka keteragnan tentang wayang pun dapat ditemukan pada prasasti dan relief candi, disamping keterangan mengenai wayang di dalam karya sastra.

Senin, 14 April 2014

DAMPAK PERKEMBAGAN TEKNOLOGI TERHADAP PSIKOLOGIS INDIVIDU


Penggunaan teknologi berkembang dengan cepat dalam segala bidang kehidupan (seperti pendidikan,perdagangan, sosial, bdaya, dan militer) 
Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat pergeseran antara hubungan manusia dengan teknologi, yaitu ketika sebuah kondisi dimana manusia menjadi tergantung pada teknologi mulai terbentuk.
Dengan demikian, perkembangan teknologi tersebut kemudian mempengaruhi rancangan sistem yang harus dapat membantu manusia dalam melakukan aktivitasnya. Sistem harus sesuai dengan kebutuhan manusia dan dirancang berorientasi kepada manusia sebagai pemakai.
Sebelum sistem dirancang, maka terdapat beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan interaksi dan perancangan itu sendiri mengenai pengaruhnya terhadap nilai-nilai manusia (user) sebagai makhluk individu dan sosial. Hal ini berdampak juga dalam kehidupan manusia.
Dampak positif perkembangan teknologi terhadap psikologis adalah
 1. Individu akan merasa senang, karena mencari informasi lebih mudah dilakukan (misal : search engine pada browser, artikel-artikel pada website)
2. 2. Individu akan lebih percaya diri, karena bisa mengapresiasikan perasaannya melalui postingan atau tulisan (misal : jejaring sosial, blog)
3. 3. Individu akan lebih terbuka terhadap perubahan, karena mengikuti perubahan arus informasi dari internet.
4. 4. Individu akan senang karena dapat berinovasi dengan penemuan-penemuan mereka (misal : tempat tidur yang bisa dilipat, handphone unik, modifikasi laptop, dll)
5. 5. Individu akan lebih termotivasi untuk menciptakan sesuatu yang lebih baru agar tidak ketinggalan jaman.
6. 6. Individu akan lebih kreatif dengan ciptaa-ciptaannya yang yang dapat membantu kinerja manusia.
7. 7. Individu akan lebih aktif serta memiliki jaringan yang luas, karena dengan teknologi sekarang ini menungkinkan seseorang berinteraksi dengan orang lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Dampak negatif perkembangan teknologi terhadap psikologis adalah:
1. 1. Individu lebih tertutup atau kurang pergaulan, karena dengan adanya teknologi yang berkembang maka individu tidak diharuskan untuk keluar rumah untuk mencari informasi.
2. 2. Individu menjadi tidak percaya diri, karena mereka tidak berinteraksi langsung di lapangan sebab teknologi memudahkan semuanya.
3. 3. Individu menjadi lebih tergantung, karena selama ini ia mendapatkan sesuatu dengan mudah.
4. 4. Individu menjadi cepat bosan terhadap sesuatu. Karena teknologi sekarang ini penuh dengan perubahan yang begitu cepat sehingga kalau tidak berinovasi, maka kalah dengan saingan lain, yang teknologinya lebih canggih. 

artikel terkait - Dampak Positif dan Negatif Gadget
                        - Pengertian Gadget
 

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda